Jumat, 15 Januari 2010

PSETK leuwi bokor 09

PSETK secara konseptual dapat didefinisikan sebagai gambaran informasi atau data mengenai keadaan sosial, ekonomi, teknis, dan kelembagaan pada suatu daerah irigasi yang dibutuhkan oleh Kelembagaan Pengelola Irigasi (KPI) untuk proses perencanaan program pemberdayaan organisasi P3A/GP3A/IP3A dalam meningkatkan kinerja pengelolaan irigasi partisipatif.

A. Latar Belakang
Perkembangan reformasi kebijakan pengelolaan irigasi sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air dan Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 2006 tentang Irigasi antara lain diarahkan untuk memperkuat Kelembagaan Pengelola Irigasi (KPI). Salah satu KPI yang perlu ditingkatkan kapasitasnya adalah organisasi Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A/GP3A/IP3A) pada tingkat daerah irigasi. Penguatan dan pengembangan organisasi P3A/GP3A/IP3A perlu didasarkan pada perencanaan yang tepat sesuai kebutuhan dan kondisi setempat. Oleh karena itu diperlukan instrumen perencanaan yang dapat memberikan masukan positif dalam rangka program penguatan dan pengembangan organisasi P3A/GP3A/IP3A menuju kemandirian pengelolaan irigasi partisipatif.
Instrumen perencanaan dalam konteks kebutuhan program cukup banyak dikembangkan untuk pemberdayaan masyarakat. Salah satu intsrumen yang cukup tepat untuk digunakan dalam rangka program penguatan dan pengembangan organisasi P3A/GP3A/IP3A adalah Profil Sosial Ekonomi Teknis Kelembagaan (PSETK). Pengertian PSETK dalam konteks tersebut secara konseptual dapat didefinisikan sebagai gambaran informasi atau data mengenai keadaan sosial, ekonomi, teknis, dan kelembagaan pada suatu daerah irigasi yang dibutuhkan oleh Kelembagaan Pengelola Irigasi (KPI) untuk proses perencanaan program pemberdayaan organisasi P3A/GP3A/IP3A dalam meningkatkan kinerja pengelolaan irigasi partisipatif.
Berdasarkan pengertian tersebut, maka PSETK dimaksudkan untuk menyediakan data atau informasi mengenai kondisi sosial, ekonomi, teknis, dan kelembagaan yang dibutuhkan dalam program pemberdayaan organisasi P3A/GP3A/IP3A menuju peningkatan kinerja pengelolaan irigasi partisipatif pada suatu daerah irigási.
Sedangkan tujuannya adalah untuk mendapatkan data dan informasi yang tepat serta aktual sebagai masukan dalam proses perencanaan program pemberdayaan organisasi P3A/GP3A/IP3A menuju peningkatan kinerja pengelolaan irigasi partisipatif pada suatu daerah irigasi berdasarkan potensi sumberdaya lokal melalui beberapa kegiatan sebagai berikut:
• Penyusunan profil sosial dan ekonomi, serta mengidentifikasi potensi sumber daya lokal;
• Penyusunan profil teknis pengelolaan irigasi (operasi, pemeliharaan dan rehabilitasi jaringan irigasi), termasuk gambaran ketersediaan air, kondisi fisik dan kefungsian jaringan irigasi, serta lahan pertanian beririgasi;
• Penyusunan profil kelembagaan dengan mengidentifikasi kelembagaan lokal yang ada, kebutuhan pembentukan organisasi P3A/GP3A/IP3A dan upaya pengembangannya berdasarkan hasil penelusuran kebutuhan petani; dan
● Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dalam rangka peningkatkan kemampuan organisasi P3A/GP3A/IP3A baik pada aspek teknis, kelembagaan maupun usahatani dan usaha ekonomi produktif.
Pelaksanaan kegiatan PSETK tersebut perlu diselenggarakan secara tepat melalui metode pendekatan tertentu sesuai kebutuhan. Ketidaktepatan metode pendekatan dalam pelaksanaan kegiatan PSETK dapat menyebabkan deviasi (penyimpangan) dalam merumuskan pembuatan program pembentukan, pengembangan, dan penguatan kemampuan organisasi P3A/GP3A/IP3A. Salah satu metode pendekatan yang dipandang cukup tepat dan sesuai adalah Pemahaman Partisipatif Kondisi Perdesaan (PPKDI). Oleh karena itu diperlukan suatu panduan yang dapat memberikan penjelasan, pemahaman, dan langkah-langkah kegiatan yang diperlukan dalam penyusunan PSETK dengan metode PPKDI pada suatu daerah irigasi sehingga diperoleh informasi yang akurat, aktual dan tepat untuk merencanakan suatu program pemberdayaan organisasi P3A/GP3A/IP3A menuju peningkatkan kinerja pengelolaan irigasi partisipatif pada suatu daerah irigasi.
1. Maksud dan Tujuan
Panduan kegiatan PSETK dengan metode PPKDI untuk pemberdayaan organisasi P3A/GP3A/IP3A dimaksudkan sebagai media dalam membantu pemahaman Kelembagaan Pengelola Irigasi dan pelaku kegiatan irigasi lainnya di daerah agar memiliki kemampuan dalam merencanakan program pemberdayaan organisasi P3A/GP3A/IP3A menuju peningkatkan kinerja pengelolaan irigasi partisipatif pada suatu daerah irigasi.
Sedangkan tujuannya adalah untuk :
a. Meningkatkan pemahaman Kelembagaan Pengelola Irigasi dan pengguna lainnya terhadap pelaksanaan kegiatan PSETK dengan PPKDI.
b. Meningkatkan kemampuan Kelembagaan Pengelola Irigasi dan pengguna lainnya dalam mengidentifikasi kebutuhan data, sumber data dan pemahaman terhadap prinsip-prinsip pelaksanaan kegiatan PSETK melalui metode PPKDI.
c. Meningkatkan kemampuan Kelembagaan Pengelola Irigasi dan pengguna lainnya dalam persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut hasil kegiatan PSETK.
d. Meningkatkan kemampuan Kelembagaan Pengelola Irigasi dan pengguna lainnya dalam merumuskan program kerja pemberdayaan organisasi P3A/GP3A/IP3A menuju peningkatkan kinerja pengelolaan irigasi partisipatif pada suatu daerah irigasi.
2. Sasaran
Terselenggaranya penyusunan PSETK dengan metode PPKDI yang dapat menyediakan data dan informasi aktual, akurat secara tepat untuk penyusunan rencana kerja tahunan dan jangka panjang dalam meningkatkan kinerja program pemberdayaan organisasi P3A/GP3A/IP3A menuju peningkatkan kinerja pengelolaan irigasi partisipatif pada suatu daerah irigasi.
3. Kegunaan
Kegunaan PSETK dengan metode PPKDI secara umum adalah sebagai data dasar penyusunan rencana dan program pemberdayaan organisasi P3A/GP3A/IP3A menuju peningkatkan kinerja pengelolaan irigasi partisipatif pada suatu daerah irigasi, sedangkan kegunaan secara khusus adalah sebagai berikut:
a. Kegunaan bagi masyarakat petani pemakai air (P3A/GP3A/IP3A) sekurang-kurangnya adalah sebagai dasar pertimbangan dalam :
● Proses perencanaan kegiatan pembentukan/penyegaran (revitalisasi/restrukturisasi/reorganisasi) dan pengembangan organisasi P3A/GP3A/IP3A pada suatu daerah irigasi;
● Penyusunan program kerja pengelolaan irigasi partisipatif dalam wilayah kerjanya bersama Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM) dan Kelompok Pendamping Lapangan (KPL);
● Pengembangan legalisasi badan hukum organisasi P3A/GP3A/IP3A;
● Kebutuhan pelatihan baik aspek teknis, kelembagaan maupun usahatani dan usaha ekonomi produktif berbasis potensi lokal;
● Penetapan iuran pengelolaan irigasi dan penyusunan Angka Kebutuhan Nyata Pengelolaan Irigasi (AKNPI/AKNOP) dalam wilayah kerjanya;
● Peningkatan pelayanan kebutuhan anggota organisasi P3A/GP3A/ IP3A; dan
● Penyusunan usulan Dana Pengelolaan Irigasi (DPI) dan Kerjasama Pengelolaan Irigasi (KSP) bersama Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait dengan irigasi.
b. Kegunaan bagi Komisi Irigasi sekurang-kurangnya adalah sebagai dasar pertimbangan dalam:
● Penyusunan dan pelaksanaan koordinasi perencanaan pengelolaan irigasi partisipatif dalam menunjang kinerja pembangunan daerah;
● Merumuskan kebijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan kondisi dan fungsi jaringan irigasi;
● Merumuskan pola dan rencana tata tanam pada daerah irigasi, serta rencana tahunan penyediaan air irigasi;
● Merumuskan rencana tahunan pembagian dan pemberian air irigasi bagi pertanian dan keperluan lainnya;
● Memberikan rekomendasi prioritas alokasi Dana Pengelolaan Irigasi (DPI) yang diusulkan oleh organisasi P3A/GP3A/IP3A pada suatu daerah irigasi;
● Memberikan atas izin alih fungsi lahan beririgasi; dan
● Penyusunan dan pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi kinerja pengelolaan irigasi partisipatif dan pemberdayaan organisasi P3A/GP3A/IP3A.
c. Kegunaan bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait dengan irigasi sekurang-kurangnya adalah sebagai dasar pertimbangan dalam:
● Penyusunan rencana strategis pengelolaan irigasi partisipatif dan pemberdayaan organisasi P3A/ GP3A/IP3A;
● Fasilitasi kegiatan pembinaan dan pengembangan organisasi P3A/GP3A/IP3A pada suatu daerah irigasi;
● Penyusunan program kerja pengelolaan irigasi partisipatif di tingkat sistem utama (primer dan sekunder);
● Menjaga dan meningkatkan kondisi fisik dan tingkat kefungsian jaringan irigasi;
● Menetapkan pola dan rencana tata tanam pada daerah irigasi, serta rencana tahunan penyediaan air irigasi;
● Menetapkan rencana tahunan pembagian dan pemberian air irigasi bagi pertanian dan keperluan lainnya;
● Menetapkan Dana Pengelolaan Irigasi (DPI) yang diusulkan oleh organisasi P3A/GP3A/IP3A pada suatu daerah irigasi
● Fasilitasi kebutuhan pelatihan untuk organisasi P3A/GP3A/IP3A baik aspek teknis, kelembagaan maupun usahatani dan usaha ekonomi produktif berbasis potensi lokal;
● Penetapan penyusunan Angka Kebutuhan Nyata Pengelolaan Irigasi (AKNPI/AKNOP) pada tingkat sistem utama (jaringan primer dan sekunder);
● Peningkatan pelayanan kebutuhan air irigasi bagi organisasi P3A/ GP3A/IP3A; dan
● Penetapan Kerjasama Pengelolaan Irigasi (KSP) bersama Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait dengan irigasi;
● Menetapkan izin alih fungsi lahan beririgasi; dan
● Penyusunan dan pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi kinerja pengelolaan irigasi partisipatif dan pemberdayaan organisasi P3A/GP3A/IP3A.
d. Kegunaan bagi pemangku kepentingan lainnya terkait dengan irigasi sekurang-kurangnya adalah sebagai dasar pertimbangan dalam:
● Memberikan fasilitasi bantuan sesuai kebutuhan organisasi P3A/GP3A/IP3A.
● Membangun hubungan kerjasama berdasarkan kesetaraan dan kemitraan baik dalam kegiatan pengelolaan irigasi maupun pengembangan kelembagaan organisasi P3A/GP3A/IP3A pada suatu daerah irigasi.
4. Ruang Lingkup Kegiatan
Ruang lingkup kegiatan PSETK dengan metode PPKDI antara lain mencakup kegiatan sebagai berikut:
● Identifikasi data dan sumber data;
● Peningkatan pemahaman dan kemampuan penggunaan metode PPKDI dalam pelaksanaan kegiatan PSETK;
● Indentifikasi kebutuhan persiapan kegiatan;
● Pelaksanaan kegiatan PSETK berdasarkan metode PPKDI dengan pendekatan partisipatif melalui penelurusan jaringan bersama: dan
● Perumusan tindak lanjut hasil kegiatan PSETK sebagai dasar perumusan program kerja.

















5. Tahapan Pelaksanaan

Gambar 1. Diagram aliran PSTEK










.
B. Gambaran Umum

1. Profil Umum Daerah Irigasi Leuwi Bokor
Daerah Irigasi Leuwi Bokor merupakan daerah Irigasi di Kabupaten Cianjur yang memanfaatkan sumber air Sungai Cikundul. Daerah Irigasi Leuwi Bokor berasal dari nama Leuwi/daerah cekungan yang cukup dalam pada aliran sungai yang berbentuk seperti Bokor atau piala pada bendung Junghil sehingga Daerah Irigasinya disebut Leuwi Bokor.
Awal mula pembangunan Bendung Irigasi tidak diketahui pasti, tetapi bangunan bendung dibuat sejak jaman Belanda sekitar tahun 1940 dengan 2 Bendung yaitu Bendung Cijagang dan Bendung Junghil. Namun kondisi revolusi antara tahun 1945 hingga tahun 1960 yang menyebabkan masyarakat (termasuk kepala desa) berevakuasi sehingga kondisi bendung yang rusak akibat banjir dan longsor tidak diperbaiki dan terbengkalai.
Dari tahun 1960 Irigasi Cijagang dan Junghil merupakan irigasi desa yang hak pengelolaannya dilaksanakan oleh masing – masing desa, baru kemudian pada tahun 1985 saat beoperasinya Bendungan Cirata yang menenggelamkan hampir seluruh kecamatan Mande dan Cikalongkulon Kabupaten Cianjur termasuk didalamnya Irigasi desa Lebak Soang Kecamatan Mande, ada keinginan untuk memindahkan Irigasi desa Lebak Soang ke Kecamatan Cikalongkulon yaitu Irigasi desa Junghil.
Tahun 1993 dengan berdasarkan pemindahan Irigasi Desa Lebak Soang maka Bendung Junghil dipindahkan dengan menerobos Bukit Junghil dan membentuk sebuah Leuwi yang dikenal dengan Leuwi Bokor, sejak saat itu di Bendung Junghil yang disatukan dengan Bendung Cijagang dikenal dengan nama Bendung Leuwi Bokor.
Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah No. 77 Tahun 2001 tentang Irigasi yang mengamanatkan penyerahan kewenangan pengelolaan Irigasi kepada lembaga/organisasi petani pemakai air maka untuk Daerah Irigasi Leuwi Bokor yang pada saat itu sudah menjadi Irigasi teknis dibentuklah Organisasi Gabungan Petani Pemakai Air (GP3A/P3A) dengan dibuatnya Akte Pendirian GP3A dengan nama GP3A Mitra Cikundul. Dengan organisasi ini semua kegiatan pengelolaan dan pengembangan sistem irigasi dilaksanakan langsung oleh GP3A melalui Program Penyerahan Kewenangan Pengelolaan Irigasi (PKPI) hingga tahun 2004.
Perubahan kebijakan pengelolaan Irigasi kembali terjadi dengan terbitnya Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 2006 tentang Irigasi yang mengisyaratkan bahwa pegelolaan dan pengembangan sistem irigasi pada blok Primer dan Sekunder harus melalui sebuah kerjasama antara pemerintah dan organisasi petani (IP3A/GP3A/P3A), sementara petani hanya diberikan kewenangan pengelolaan dan pengembangan pada petak tersier.
Sehingga pada tahun 2007 melalui Water Resources and Irrigation Sector Management Programs (WISMP) GP3A Mitra Cikundul Daerah Irigasi Leuwi Bokor melakukan kerjasama pengelolaan (KSP) dengan pihak Dinas PSDAP Kabupaten Cianjur sehingga dapat melaksanakan rehabilitasi bangunan bendung yaitu bendung Junghil.

2. Wilayah Kerja
Daerah irigasi Leuwi Bokor merupakan salah satu Daerah Irigasi yang kewenangan pengelolaannya dilaksanakan oleh di tingkat Kabupaten Cianjur. Daerah irigasi Leuwi Bokor meliputi luas aeral 587 Ha dan terletak di Kecamatan Cikalongkulon.


























Table 1. Data Ketinggian (dpl) dan Kemiringan (%)
NO KECAMATAN KETINGGIAN (dpl) KEMIRINGAN (%)
1 Cikalongkulon 225 – 500 0 – 40
Sumber : Cianjur Dalam Angka 2005


Dari table 2.2 terlihat bahwa untuk Kecamatan Cikalongkulon data kemiringan dan data ketinggian memiliki nilai yang sama, artinya bahwa untuk kecamatan tersebut dengan ketinggian 225 – 500 dpl dapat ditanami oleh padi maupun sayuran tetapi dengan kondisi kemiringan antara
0 – 40% maka pertanian di dua kecamatan tersebut banyak yang menggunakan sistem terassering.
Untuk wilayah tertentu di kecamatan Cikalongkulon sangat cocok dengan tanaman padi karena memiliki ketinggian 225 – 500 sehingga produksi pertanian selain padi di kecamatan rendah, dengan kemiringan antara 0 – 3% maka sistem pertanian tidak menggunakan terassering.

Tabel 2. Data Curah Hujan (mm/Tahun)
NO KECAMATAN CURAH HUJAN (mm/Tahun)
1 Cikalongkulon 2000 – 2500
Sumber : Cianjur Dalam Angka 2005

Dengan kondisi curah hujan yang cukup tinggi serta kemiringan lahan yang relatif rendah memungkinkan daerah Irigasi Leuwi Bokor sebagai daerah pertanian padi yang cukup baik tidak hanya mengandalkan sumber air irigasi tetapi juga sumber air hujan dapat diandalkan dikala musim tanam I dan II sehingga agak jauh berbeda produksi musim tanam I, II dengan musim tanam III.

Tabel 3. Luas Tanah Sawah menurut Jenis Pengairan (Ha)
NO KECAMATAN IRIGASI TEKNIS IRIGASI ½ TEKNIS IRIGASI SEDERHANA IRIGASI NON PU JUMLAH
1 Cikalongkulon 357 966 341 323 1.987

Sumber : Cianjur Dalam Angka 2005

Di Kecamatan Cikalongkulon sebenarnya ada beberapa Bendung yang digunakan untuk mengairi areal persawahan, diantanya bendung yang mengambil sumber air sungai Cikundul yaitu Bendung Leuwi Leungsir, Leuwi Bokor, dan Cinangka dengan total areal 1.644 Ha dan merupakan irigasi Teknis dan ½ teknis.
Saluran irigasi Leuwi Bokor mengairi 3 (tiga) Desa yaitu, Desa Majalaya, Desa Cijagang, dan Desa Sukamulya sehingga P3Anya pun berjumlah 3 (tiga) unit.
Dengan jumlah 3(tiga) Desa dan luas areal 587 Ha, dapat dikatakan bahwa Daerah Irigasi Leuwi Bokor merupakan Daerah Irigasi di Kabupaten Cianjur yang merupakan kewenangan Kabupaten.

Gambar 2. Peta Wilayah Daerah Irigasi Leuwi Bokor






Gambar Peta Wilayah Daerah Irigasi Leuwi Bokor


















3. Profil Sumber,Ketersediaan dan Alokasi Air Irigasi

a. Kondisi Sumber Air
Sumber air Daerah Irigasi Leuwi Bokor adalah sungai Cikundul yang merupakan Sub DAS Citarum. Mata air sungai Cikundul terletak di Taman nasional Gede – Pangrango (TNGP) sementara suplesi sungai Cikundul berasal dari beberapa anak sungai yang ada di Cianjur yaitu Sungai Cibodas, Sungai Cisarua, Sungai Cipendawa, Sungai Cikerta, Sungai Citunggul, dan Sungai Cidadap.
Kondisi debit air Sungai Cikundul sangat ditentukan oleh kondisi setiap hulu anak sungai Cikundul. Setiap hulu anak sungai Cikundul sudah sangat kritis sehingga tidak dapat menampung air hal ini dialami oleh beberapa Daerah Irigasi seperti Cihea, Susukan Gede, Cianjur Leutik, dan Ciapadang Cibeleng karena untuk mengairi daerah irigasinya saja pada musim tanam III sudah tidak mampu, apalagi jika dilanjutkan ke Daerah Irigasi Leuwi Bokor yang merupakan hilir dari ketiga anak sungai tersebut. Mata air Sungai Cikundul berada pada kawasan Taman Nasional Gede – Pangrango yang cukup terjaga kelestarian hutannya, tetapi disepanjang aliran Sungai Cikundul sudah sangat padat dengan pemukiman sehingga kondisi sungai sudah tidak terjaga dari pencemaran (sumber : ESP USAID, Transect bulan Maret 2006).
Diperlukan sebuah kebijakan pemerintah daerah dan disertai kesadaran partisipasi masyarakat sebagai komponen yang sanagt berkepentingan untuk melakukan konservasi terhadap kondisi kualitas dan kuantitas sumber air.

Tabel 4. Anak Sungai Cisokan
No Anak Sungai Kondisi
1 Sungai Cibodas Kualitas dan Kuantitas Rendah, Lahan Kritis, Sampah
2 Sungai Cisarua Kualitas dan Kuantitas Rendah, Lahan Kritis, Sampah
3 Sungai Cipendawa -
4 Sungai Cikerta Kualitas dan Kuantitas Rendah, Lahan Kritis, Sampah
5 Sungai Citunggul -
6 Sungai Cidadap Kualitas dan Kuantitas Rendah, Lahan Kritis, Sampah

b. Ketersediaan air
Ketersediaan akan air irigasi di daerah irigasi Leuwi Bokor sepanjang tahun bila dilihat dari potensi sumber air utama pada MTI dan MT II Baik dan melimpah sedangkan pada pada MT III cukup /tersedia, sedangkan bila dilihat akan kondisi kualitas airnya belum/tidak tercemar. Sedangkan ketersediaan dan kualitas di jaringan irigasi sepanjang tahun potensi akan air irigasi di Hulu, tengah dan hilir pada MT I dan II berlebih, dan tidak tercemar, sedangkan pada MT III ketersediaan air di jaringan irigasi di Hulu, tengah dan hilir cukup dan tidak tercemar sehingga umnumnya petani daerah irigasi leuwi bokor bisa melaksanakan tanam padi pada MTI,II dan III.



Grafik Neraca air









Sumber CADIN PSDA&P Cikalong kulon
Dari grafik diatas terlihat bahwa pada bulan Agustus Debit Andalan pada Daerah Irigasi Leuwi bokor adalah 3510 l/dtk sedangkan kebutuhan untuk areal Leuwi Bokor debit yang dibutuhkan adalah 342 L/dtk, sehingga kebutuhan akan air terpenuhi bahkan melimpah.

c. Alokasi Air Irigasi
Alokasi penggunaan air irigasi di Daerah Irigasi Leuwi Bokor umumnya digunakan untuk keperluan Pertanian selebihnya dipakai untuk cuci dan mandi.


4. Profil Teknis
a. Data umum Daerah Irigasi
Daerah Irigasi Leuwi Bokor merupakan daerah Irigasi di Kabupaten Cianjur yang memanfaatkan sumber air Sungai Cikundul. Daerah Irigasi Leuwi Bokor berasal dari nama Leuwi/daerah cekungan yang cukup dalam pada aliran sungai yang berbentuk seperti Bokor atau piala pada bendung Junghil sehingga Daerah Irigasinya disebut Leuwi Bokor.
Awal mula pembangunan Bendung Irigasi tidak diketahui pasti, tetapi bangunan bendung dibuat sejak jaman Belanda sekitar tahun 1940 dengan 2 Bendung yaitu Bendung Cijagang dan Bendung Junghil. Namun kondisi revolusi antara tahun 1945 hingga tahun 1960 yang menyebabkan masyarakat (termasuk kepala desa) berevakuasi sehingga kondisi bendung yang rusak akibat banjir dan longsor tidak diperbaiki dan terbengkalai.
Dari tahun 1960 Irigasi Cijagang dan Junghil merupakan irigasi desa yang hak pengelolaannya dilaksanakan oleh masing – masing desa, baru kemudian pada tahun 1985 saat beoperasinya Bendungan Cirata yang menenggelamkan hampir seluruh kecamatan Mande dan Cikalongkulon Kabupaten Cianjur termasuk didalamnya Irigasi desa Lebak Soang Kecamatan Mande, ada keinginan untuk memindahkan Irigasi desa Lebak Soang ke Kecamatan Cikalongkulon yaitu Irigasi desa Junghil.
Tahun 1993 dengan berdasarkan pemindahan Irigasi Desa Lebak Soang maka Bendung Junghil dipindahkan dengan menerobos Bukit Junghil dan membentuk sebuah Leuwi yang dikenal dengan Leuwi Bokor, sejak saat itu di Bendung Junghil yang disatukan dengan Bendung Cijagang dikenal dengan nama Bendung Leuwi Bokor.
Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah No. 77 Tahun 2001 tentang Irigasi yang mengamanatkan penyerahan kewenangan pengelolaan Irigasi kepada lembaga/organisasi petani pemakai air maka untuk Daerah Irigasi Leuwi Bokor yang pada saat itu sudah menjadi Irigasi teknis dibentuklah Organisasi Gabungan Petani Pemakai Air (GP3A/P3A) dengan dibuatnya Akte Pendirian GP3A dengan nama GP3A Mitra Cikundul. Dengan organisasi ini semua kegiatan pengelolaan dan pengembangan sistem irigasi dilaksanakan langsung oleh GP3A melalui Program Penyerahan Kewenangan Pengelolaan Irigasi (PKPI) hingga tahun 2004.
Perubahan kebijakan pengelolaan Irigasi kembali terjadi dengan terbitnya Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 2006 tentang Irigasi yang mengisyaratkan bahwa pegelolaan dan pengembangan sistem irigasi pada blok Primer dan Sekunder harus melalui sebuah kerjasama antara pemerintah dan organisasi petani (IP3A/GP3A/P3A), sementara petani hanya diberikan kewenangan pengelolaan dan pengembangan pada petak tersier.
Sehingga pada tahun 2007 melalui Water Resources and Irrigation Sector Management Programs (WISMP) GP3A Mitra Cikundul Daerah Irigasi Leuwi Bokor melakukan kerjasama pengelolaan (KSP) dengan pihak Dinas PSDAP Kabupaten Cianjur sehingga dapat melaksanakan rehabilitasi bangunan bendung yaitu bendung Junghil.
Irigasi desa ini diambil dan dikelola oleh dinas terkait dan dijadikan Daerah Irigasi wilayah Leuwi Bokor, sehingga sampai sekarang terkenal dengan daerah Irigasi leuwi Bokor. Mengenai sejarah berdirinya Bangunan irigasi tersebut tidak ada yang tahu persis kapan bangunan irigasi tersebut didirikan.
Daerah Irigasi Leuwi Bokor mempunyai 2 Bendung yaitu :
1. Bendung Junghil (Leuwi Bokor I/BJH)
2. Bendung Cijagang (BCJ)
Bendung Junghil I terdapat diwilayah desa Majalaya, Bendung Cijagang terletak di desa Cijagang tepatnya disebelah utara desa Cijagang (Parasu) . Sumber air daerah irigasi Leuwi Bokor adalah sungai Cikundul yang dialirkan melalui 3 saluran yatu saluran induk junghil(2226 m) saluran induk Cijagang(1695 m) serta saluran sekunder Cikalong (3865 m).
Daerah irigasi Leuwi Bokor mempunyai luas areal 587 Ha. Dengan lokasi layanan daerah irigasi sebagai berikut :
1. Desa Majalaya seluas 250Ha.
2. Desa Cijagang seluas 57 Ha.
3. Desa Sukamulya seluas 2

Berdasarkan data, prosentase pemenuhan air dari Daerah Irigasi Leuwi Bokor berdasarkan kecamatan yang dilaluinya terhadap luasan sawah:

Tabel 5. Perbanding Luasan Sawah dan Luasan Irigasi
No. Kecamatan Luas Sawah
(Ha) Areal
Daerah Irigasi
(Ha) Prosentase

1 Cikalongkulon 4683 1987 27.5 %
4683 1987 27,5 %
Sumber : BPS, Cianjur dalam angka tahun 2005 (Luas Sawah)


Tabel 6. Kondisi Fisik Dan Fungsi Jaringan Irigasi
No Jenis Bangunan Jarak dari Bendung Jum. Kondisi Fungsi Keterangan
1 Bendung 1. Junghil

2. Cijagang

-
1

1
RB

B


Berfungsi


Berpungsi BJH 0, selesai di perbaiki agustus 2008. dan ruksak/jebol lagi di tahun 2009 akibat bencana alam (banjir). Tingkat kefungsian berfungsi bila digunakan/dibuat tanggul buatan. Biasanya menggunakan beronjong bamboo.
BCJ 0, i diperbaiki tahun 2008 baru selesai pada tahun 2009 akibat debit air yang tidak menentu.
2 Free Intake - 1 RR Berfungsi BCK 1-1

3 Bagi sadap 596 m 1 RR Berfungsi BCJ 3
4 Sadap


777 m
1517 m
3155 m
1760 m
22 RB Berfungsi BJH 2-1
BJH 5
BJH 3
BCK 4
5 Oncoran 1540 7 B Tdk Berfungsi BCK 5
6 Terjunan - 10 RR
RB Berfungsi
Berfungsi BJH 2 d
BCK 2 c
7 Jembatan - 3 B Berfungsi BJH 2 a
BJH 4 a
BCK 2 a
8 Gorong-Gorong - 6 B Berfungsi BJH 4 b
BCJ 5 c
BCK 2 b
BCK 3 c
BCK 5 a
BCK 5 b
9 Pelimpah Samping - 2 RR Berfungsi BJH 1 b
BCJ 4 a
BJH 1 a
10 Bangunan Ukur
50 m 1 B Berfungsi BJH 1a

11 Got Miring 400 m 1 RB Berfungsi BCK 2d
12 Pas Lining 1153 m 1 RB Berfungsi Banyak sadap liar
13 Talang 2955 1 B Berfungsi BCK 2 G
14 Penguras 328 1 B Berfungsi BCK 2 B
Ket : B = Baik RR = Rusak Ringan RB = Rusak Berat
Dari hasil penelusuran jaringan pada saat ini kondisi dari kedua bendung daerah Irigasi leuwi bokor, yaitu Bendung Junghil (BJH 0) Selesai diperbaiki pada tahun 2008, kemudian ruksak/jebol kembali sepanjang 22 meter dari total panjang 27 meter, tepatnya tanggal 4 Oktober 2009 diakibatkan bencana alam (Banjir). Sedangkan Bendung Cijagang (BCJ 0) direncanakan perbaikan selesai bulan Agustus 2008 baru selesai tahun 2009 . Hal ini disebabakan debit air sungai Cikundul yang tidak menentu sehingga ada keterlambatan perbaikan kurang lebih satu tahun .






Dilihat dari tingkat kefungsian Bendung junghil cukup berpungsi bila menggunakan tanggul buatan, tetapi kelemahannya cukup banyak yaitu apabila terjadi hujan lebat yang mengakibatkan banjir di sumber utama (sungai Cikundul) maka akan terjadi penyumbatan dan rusaknya tanggul, akibatnya menghambat aliran air yang menuju saluran induk maupun menuju petak tersier, sehingga pendistribusian air kurang yang mengakibatkan debit air disaluran kering yang akibatnya dikhawatirkan sawah-sawah menjadi kering serta pemasangan beronjong (tanggul) harus dilakukan 2 kali kegiatan, akibatnya banyak memakan waktu serta biaya sehingga tidak berdampak terhadap iuran (IPI) yang terkumpul yang selalu terpakai untuk perbaikan tanggul. Yang paling penting dari hasil perbaikan ini adanya keterpaduan regulasi daerah terkait dengan kebijakan hulu-hilir dalam optimalisasi potensi sumberdaya air.






Sedangkan apabila melihat keseluruhan kondisi fisik dari tabel diatas menunjukan bahwa kondisi saat ini belum adanya perubahan secara signifikan. keamanan struktur serta keamanan hidrolik bendungan masih kurang optimal, sehingga bila dilihat dari tingkat kerusakan fisik jaringan irigasi secara keseluruhan menunjukan Rusak Berat. Sedangkan apabila dilihat dari fungsi jaringannya walaupun kondisi rusak tapi masih berfungsi. Begitu pula dengan Kondisi saluran induk junghil, saluran Cijagang dan saluran sekunder Cikalong, kondisinya dalam keadaan rusak, seperti terlihat dalam table dibawah ini :
Tabel 7. kondisi saluran induk Junghil, induk Cijagang dan sekunder Cikalong

No Uraian Kondisi Rekomendasi Keterangan
RR RS RB
1 Induk Junghil
b. BJH 0 √ Pengaman tanggul sungai Pasang tanggul

b. saluran induk junghil HM. 6-7 √ Perbaikan Pasang lining P=100 m
c. bang.Pengurass BJH 1a √ perbaikan Pelaksanaan swakelola
d. saluran induk junghil HM. 12-13 Pemb. Bang. baru Pasangan lining P=18m
e. saluran induk junghil HM. 15-16 √ Pembanguan baru Pasangan lining P=65 m
f. sal. Induk . HM 17 √ Pembangunan pasang lining P=34 m
g. jembatan orang
BJH 2c Pembanunan baru pembangunan P=2 m, L=1.5 m
2 Induk cijagang
a. BCJ 0 pembangunan Baru selesai dibangun 2009
b. bang.sadap BCJ2 HM2.20 √ perbaikan Perbaiakan landhoof P=2 m L= 1.5 m
3 Sekunder cikalong
a. Sasluran skunder Cikalong HM11 √ Perbaikan Perbaikan lining P=20 m
b. saluran sekunder Cikalong HM 8 √ Bangun baru Pasang lining baru P=14 m
d. Saluran sekunder Cikalong HM 15 √ Pembangunan baru Pasang lining baru P=15m
Ket : RR = Rusak Ringan RS = Rusak Sedang RB = Rusak Berat

Kondisi saluran induk Junghil, induk Cijagang dan sekunder Cikalong yang sedang diperbaiki terlihat dalam gambar dibawah ini :






Saluran induk Junghil saluran induk Cijagang saluran skunder Cikalong

b. Pelaksanaan Operasi dan Pemeliharaan (O & P) Jaringan Irigasi
Rencana kegiatan pemeliharaan pada daerah irigasi Leuwi Bokor biasanya dilakukan musiman, dan insidentil, dan dilakukan oleh GP3A/P3A yang berkordinasi dengan pihak KCD setempat adapun bentuk keterlibatan GP3A dan P3A berupa tenaga. Kemampuan yang dimilki GP3A/P3A dalam melaksanakan kegiatan pemeliharaan pada daerah Irigasi setempat, yaitu berupa pemotongan rumput pengerukan Lumpur dan pembersihan sampah di saluran. Dari hasil survey lapangan bentuk gotong royong daerah Irigasi Leuwi Bokor dalam membantu pelaksanaan kegiatan irigasi selalu tergantung terhadap adanya proyek saja, akibatnya banyak saluran yang tidak terpelihara daerah irigasi Leuwi Bokor khususya Desa Majalaya dan Desa Sukamulya, kegiatan pemeliharaan dilakukan oleh P3A dan GP3A secara rutin. Ini disebabkan adanya tim khusus (Waker) yang ditunjuk oleh GP3A setempat yng anggotanya sebanyak 12 orang yang biayanya dari hasil iuran (IPI) setempat. Pemeliharaan seperti ini cukup efektif terlihat dari hasil penelusuran jaringan daerah Irigasi Desa Majalaya cukup terpelihara. Kemampuan GP3A dalam melaksanakan kegiata poemeliharaan hanya pada tingkat pemotongan rumput, pengerukan lumpur, serta pembersihan sampah dibagian saluran.
Pada saat ini kondisi bendung junghil tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena bendung ini rusak berat akibat bencana diharapkan dapat mengairi tiap saluran sehingga setiap hujan tiba tidak diperlukan lagi perbaikan tanggul sementara. Kecuali bendung Cijagang sudah 100 persen selesai .
Rencana tata tanam dan pembagian air (RTT & RPA) pada setiap musim tanam (MT) di daerah irigasi Leuwi Bokor dapat dilihat dalam tabel di bawah ini :




Tabel 8. pola tanam dan Jadwal Tanam Daerah Irigasi Leuwi Bokor
Musim Tanam (MT) Luas Areal tanam (Ha) BULAN Luas Areal Panen (Ha) Rata-rata produksi ton/ha
O N D J F M A M J J A S
MT I 462 √√√√√√√√ 462 5-6
MT II 462 √√√√√√√√ 462 5-6
MT III 462 √√√√√√√√
√√√√√√√√ 231
231 4-5
3
Sumber hasil wawancara dengan ketua GP3A
Keterangan : √ Tanaman padi
√ Tanaman palawija

Tabel diatas menunjukkan bahwa Rencana tata tanam dan rencana pembagian air terjadi pada :
a. Bulan Oktober, November, Desember, Januari masa tanam I
b. Bulan Februari, Maret, April, Mei masa tanam II
c. Bulan Juni, Juli, Agustus, September masa tanam III

Di daerah irigasi Leuwi Bokor, walaupun sudah ada ketetapan rencana tata tanam (RTT) di susun oleh KCD – KPL – Dinas, dengan mengacu pada rencana luas tanam perpetak tersier (dapat dilihat dalam lampiran), tetapi sebagian petani tidak melaksanakannya. Pola padi-padi, palawija, biasanya hanya sebagian petani yang melaksanakannya umumnya petani daerah irigasi Leuwi Bokor selalu melaksanakan hampir setiap musim menanam padi terus menerus sehingga kesesuaian rencana tanam, dengan rencana yang disiapkan belum sepenuhnya sesuai, begitu pula dengan rencana pembagian air seperti dalam tabel di bawah ini :

Tabel 9. Rencana pembagian air daerah Irigasi Leuwi Bokor
Wilayah Siang Malam
Hulu
Tengah
Hilir √



Sumber ketua GP3A leuwi Bokor
Pembagian air dalam tabel di atas, menunjukan tidak adanya kesesuaian dengan rencana kegiatan operasi Leuwi Bokor. Hal ini disebabkan karena bangunan bendung daerah irigasi Leuwi Bokor baru selesai diperbaiki, sedangkan buka – tutup pintu di bendung belum bisa dipergunakan. Hal ini juga disebabkan pengamanan bangunan dan saluran irigasi yang masih belum optimal dengan indikasi terjadinya kehilangan bagian bangunan irigasi dan keruksakan lining. sehingga bila dilihat dari ketepatan pelaksanaan pengaturan pembagian air pada daerah irigasi tersebut, tidak tepat waktu dan jumlah. Pelayanan kegiatan pengaturan operasi jaringan cukup memuaskan, dan keterlibatan petugas P3A/GP3A dalam kegiatan operasi jaringan irigasi ikut terlibat, tetapi dalam kemampuan kegiatan operasi tersebut sebagian petugas P3A/GP3A masih kurang mampu.
Di daerah Irigasi Leuwi Bokor terdapat koordinasi pengaturan air antar penggunpemakai air, sehingga tidak pernah/ada konflik dalam permasalahan yang berkaitan dengan kegiatan operasi jaringan irigasi. Hal tersebut ada kemungkinan di daerah Irigasi Leuwi Bokor mempunyai debit air yang melimpah, dari hulu sampai hilir tidak pernah ada yang merasa kekurangan air, baik keperluan sehari-hari maupun untuk usaha tani.
c. Pelaksanaan Rehabilitasi jaringan irigasi
Pada tahun 2007, 2008 dan 2009 melalui Water Resources and Irrigation Sector Management Programs (WISMP) GP3A Mitra Cikundul Daerah Irigasi Leuwi Bokor melakukan kerjasama pengelolaan (KSP) dengan pihak Dinas PSDAP Kabupaten Cianjur sehingga dapat melaksanakan rehabilitasi jaringan irigasi.


5. Profil Sosial-Ekonomi

a. Tingkat Swadaya Masyarakat
Tingkat swadaya petani masih sangat potensial untuk digerakkan. Namun tingkat swadana perlu mendapat perhatian dikarenakan masih belum tumbuhnya kesadaran dalam pengelolaan irigasi yang partisipatif. Kondisi geografis yang menempatlkan lokasi Daerah Irigasi Leuwi Bokor diperbatasan Cianjur – Bogor sangat kental dari kondisi kultur masyarakat transisi yang dapat dikatakan bahwa swadaya masyarakat merupakan hal yang hampir hilang kecuali ada kepentingan langsung dari masyarakat terhadap sebuah kegiatan. Ditambah tingkat iuran petani yang mengecil setiap waktunya. Namun itu semua kembali kepada kondisi sumber air yang tidak menentu debitnya serta kondisi bendung yang hingga saat ini perlu rehablitasi. Sehingga tidak akan sebanding antara penarikan iuran yang dikenakan pada petani dengan ketersediaan air pada saluran irigasi. Hal tersebut terjadi antara tahun 2003 sampai sekarang disebabkan oleh kondisi sumber air yang tidak menentu debitnya karena kondisi bendung junghil yang ruksak berat akibat bencana yang terjadi pada bulan oktober 2009.
Kondisi baru selesai diperbaiki tepatnya tahun 2008, namun ruksak kembali pada oktober 2009 akibat bencana banjir, sehingga ketersediaan air pada saluran akan kembali terganggu, maka akan ada pengaruhnya pada tingkat penarikan iuran masyarakat petani Daerah irigasi Leuwi bokor di tahun 2009, artinya akan kembali terjadi kefakuman.

Tabel 10. Iuran Petani Pemakai Air P3A/GP3A Mitra Cikundul
Daerah Irigasi Leuwi Bokor.
TAHUN P3A/GP3A JUMLAH IURAN (KG)
2001 Jaya Mekar
Mitra Tani
Mulya Jaya 2078

2002 Jaya Mekar
Mitra Tani
Mulya Jaya 2176.5
2003 Jaya Mekar
Mitra Tani
Mulya Jaya 2112.2
2004 Jaya Mekar
Mitra Tani
Mulya Jaya
*
2005, 2006,2007 Jaya Mekar
Mitra Tani
Mulya Jaya

*
2008 Jaya Mekar
Mitra Tani
Mulya Jaya
**
Sumber: Data iuran P3A/GP3A Daerah Irigasi Leuwi Bokor
Keterangan : * Iuran tidak terkumpul karena ketersediaan air dalam saluran tidak cukup karena bendung
Ruksak.
** Dalam proses pengumpulan kembali(aktif) Pada akhir musim tanam 3.


b. Hubungan Kemasyarakatan/Gotong Royong
Mengenai hubungan kemasyarakatan khususnya tingkat gotong royong cukup bagus. Terbukti dari setiap penanganan kegiatan pemeliharaan masih melibatkan banyak anggota ataupun petani. Dari masyarakat petani yang berada di hulu, tengah maupun hilir selalu melakukan interaksi sehingga terjalin hubungan yang baik. Hingga saat ini Daerah Irigasi Leuwi Bokor tergabung dalam Forum Daerah Irigasi Sungai Cikundul atau disingkat FK SUCI yang anggotanya adalah Daerah Irigasi Cisalak Batusahulu, Daerah Irigasi Cinangka, Daerah Irigasi Leuwi Bokor, dan Daerah Irigasi Ciraden Leuwi Leungsir. Forum Koordinasi ini dimaksudkan untuk lebih mengkoordinasi Daerah irigasi yang memanfaatkan air Sungai Cikundul sehingga terjalin hubungan kemitraan antar Daerah Irigasi.
c. Tingkat Pendidikan Petani
Untuk tingkat pendidikan Petani rata-rata menyelesaikan bangku Sekolah Dasar. Namun untuk anggota keluarga mereka (anak ) kebanyakan telah menyelesaikan SMU, namun tidak terlalu berminat untuk melanjutkan kegiatan orang tuanya, bahkan kebanyakan berurbanisasi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Anggota dan pengurus IP3A/GP3A/P3A didominasi oleh golongan orang tua sehingga tingkat pendidikan relatif masih rendah
Tabel 11. Tingkat Pendidikan Petani DI Leuwi Bokor
No Mitra Cai SD
(%) SMP
(%) SMU
(%) S1
(%)
1 GP3A Mitra Cikundul 10 40 30 10
2 P3A Jaya Mekar 25 40 30 5
3 P3A Mitra Tani 15 35 40 10
3 P3A Mulya Jaya 12 35 40 13

d. Status Kepemilikan lahan
Status kepemilikan lahan di daerah Irigasi Leuwi Bokor dapat dilihat dari status petaninya yang terdiri dari petani pemilik, pemilik penggarap, dan petani penggarap serta penyakap atau penyewa (gade).
Tabel 12. Status Kepemilikan Lahan
NO STATUS PETANI PROSENTASE (%)
1 Pemilik 5
2 Pemilik Penggarap 57
3 Penggarap 20
4 Penyewa 18
Jumlah 100
Sumber : hasil survey dan wawancara dengan Ketua GP3A
Ket : Pemilik adalah petani yang memiliki lahan tapi tidak digarap sendiri
Pemilik Penggarap adalah Pemilik sekaligus penggarap
Penggarap adalah tidak memiliki lahan tetapi punya lahan garapan


Dari tabel diatas terlihat bahwa jumlah petani yang memiliki lahan sekaligus menggarap lahannya sekitar 57% dari total lahan garapan sementara prosentase terkecil adalah pemilik dengan kepemilikian lahan 5% artinya bahwa dari data tersebut sekitar 62% lahan persawahan dimiliki oleh masyarakat daerah Irigasi Leuwi Bokor sementara lahan yang dimiliki oleh orang diluar Daerah Irigasi Leuwi Bokor hanya berjumlah 18%.

e. Struktur Mata Pencaharian Petani
Struktur mata pencaharian petani daerah irigasi Leuwi Bokor dapat dilihat dari struktur kepemilikan lahan serta jenis dari sumber penghasilan/ pendapatan petani.



Tabel 13. Struktur Mata Pencaharian masyarakat
Jenis Mata Pencaharian Jumlah
(%) Keterangan
Petani 30 Ada beberapa katagori petani
Pedagang 25
Pegawai 32 Swasta dan PNS
Buruh Pabrik/Industri 13

f. Produktivitas hasil usaha tani/luas dan jenis usaha tani.
Kondisi ekonomi masyarakat petani di daerah Irigasi Leuwi Bokor dilihat dari sisi luas areal seharusnya termasuk petani yang memiliki tingkat pendapatan tinggi, tetapi jka melihat dari status petani yang lebih banyak sebagai petani penggarap maka petani merupakan buruh tani yang mengandalkan pendapatannya dari upah sebagai petani.

Tabel 14. Rata – Rata Produksi Padi
NO KECAMATAN LUAS RATA PRODUKSI
(TON)
Tanam Panen

1
Cikalongkulon 8024 8024 44518
8024 8024 44518

Dari tabel 3.4 terlihat bahwa dari hasil produksi pertanian padi pada tahun 2005 cukup besar dengan luas tanam dan luas panen sekitar 8024 Ha. Tetapi jika alih fungsi lahan tidak dikendalikan tidak mustahil bahwa pada tahun 2010 hasil produksi padi dari dua kecamatan tersebut tidak akan mencapai 30000 ton pertahun. Selain padi sebagai sumber pendapatan pertanian petani di DI Leuwi Bokor, palawija merupakan salah satu unggulan produksi yaitu sekitar 1711 ton berupa cabai, jagung serta tanaman hias seperti bunga mawar. Selain budidaya pertanian, budidaya perikanan airtawar seperti Ikan mas, Nila, dan lele menjadi salah satu budidaya yang mampu menopang ekonomi petani, tetapi berkurangnya debit air sungai Cikundul menjadi kendala yang kemudian menurunkan produksi ikan air tawar tersebut sehingga petani kehilangan salah satu sumber pendapatan.
Tingkat pendapatan petani Daerah Irigasi Leuwi Bokor tergolong cukup karena status mereka sebagian besar adalah pemilik penggarap selain itu untuk banyak dari petani di Daerah Irigasi Leuwi Bokor selain status mereka sebagai Petani mereka juga merupakan pensiunan PNS Guru atau pegawai swasta yang memiliki penghasilan tetap. Untuk menggali potensi ekonomi bidang pertanian banyak petani yang menambah penghasilannya dari melalukan intesifikasi dan divesifikasi pertanian.

Tabel 15. Analisis Usaha Tani Daerah Irigasi Leuwi Bokor
A. Biaya Produksi
No Uraian Biaya Produksi Total
Unit Volume Harga Nilai
1 Benih Kg 25 5000 125000 125000
2 Pupuk Kimia
a. Urea
b. TSP
c. KCL
Kg
Kg
Kg
200
125
75
1500
2000
2000
300000
250000
150000


700000
3 Peptisida Botol 10 35000 350000 350000
4 Tenaga Kerja
a. Pengolahan tanah
b. Traktor
c. Semai dan tanam
d. Penyiangan
e. Pemupukan
f. Penyemprotan
g. Pemanenan
HOKP
Hari
HOKW
HOKW
HOKP
HOKP
KG
30
1
50
25
4
2
6000
15000
700000
12000
12000
15000
15000
150
450000
700000
600000
300000
60000
30000
900000






3040000
TOTAL 4215000

B. Pendapatan Permusim Tanam
Pendapatan Jumlah Satuan Harga Satuan Total
Hasil Panen 6000 Kg 2050 12300000
Biaya Produksi 4215000
Total Pendapatan 8085000

g. Tingkat pendapatan usaha tani
Kondisi ekonomi masyarakat petani di daerah Irigasi Leuwi Bokor dilihat dari sisi luas areal seharusnya termasuk petani yang memiliki tingkat pendapatan tinggi, tetapi jka melihat dari status petani yang lebih banyak sebagai petani penggarap maka petani merupakan buruh tani yang mengandalkan pendapatannya dari upah sebagai petani.
h. Tingkat pendapatan rumah tangga petani
Tingkat pendapatan rumah tangga petani Daerah Irigasi Leuwi Bokor tergolong rendah pendapatannya. Rata-rata pendapatan rumah tangga masyrakat petani pemakai air dalam sebulan sekitar 500.000 per bulan.
i. Potensi sumber daya lokal
Beberapa potensi lokal yang potensial untuk dapat dikembangkan diantaranya potensi sumber daya manusia yang dinilai cukup memadai, ditambah dengan sumber daya lain seperti lahan, air dan material juga cukup potensial untuk dikembangkan. Hanya saja untuk sumber daya teknologi dirasakan masih sangat kurang.
Selain padi sebagai sumber pendapatan pertanian petani di DI Leuwi Bokor, palawija merupakan salah satu unggulan produksi yaitu berupa cabai, jagung serta tanaman hias seperti bunga mawar.
Selain budidaya pertanian, budidaya perikanan air tawar seperti Ikan mas, Nila, dan lele dengan pola Mina Padi (MINDI) yaitu pola tanam ikan sebelum tanam padi menjadi salah satu budidaya yang mampu menopang ekonomi petani, tetapi berkurangnya debit air sungai Cikundul menjadi kendala yang kemudian menurunkan produksi ikan air tawar tersebut sehingga petani kehilangan salah satu sumber pendapatan.
Tingkat pendapatan petani Daerah Irigasi Leuwi Bokor tergolong cukup karena status mereka sebagian besar adalah pemilik penggarap selain itu untuk banyak dari petani di Daerah Irigasi Leuwi Bokor selain status mereka sebagai Petani mereka juga merupakan pensiunan PNS Guru atau pegawai swasta yang memiliki penghasilan tetap. Untuk menggali potensi ekonomi bidang pertanian banyak petani yang menambah penghasilannya dari melalukan intesifikasi dan divesifikasi pertanian. Seperti yang dilakukan P3A mitra cai Jaya mekar dan P3A Mulya jaya sedang melakukan System of Rice Intensification (SRI) serta pola Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).
Tetapi belum seluruhnya dilaksanakan, kurangnya biaya serta pengetahuan tentang pola tanam ini menjadi kendala sebagian masyarakat petani Daerah Irigasi leuwi bokor. Seperti yang ditunjukkan dalam tabel 6 dibawah ini :

Tabel 16. Intensifikasi dan diversifikasi pertanian P3A/GP3A
Daerah Irigasi Leuwi Bokor Tahun 2009.
Jenis Pola tanam P3A/GP3A Luas tanam
PTT Jaya Mekar 3000 m2
SRI Mulya Jaya 11.600 m2
MINDI Mulya Jaya 5000 m2
Keterangan : PTT (Pengelolaan Tanaman dan sumber daya terpadu)
SRI (System of Rice Intensification)
MINDI (Mina Padi)


j. Peluang usaha ekonomi produktif
Hal ini erat hubungannya dengan potensi yang dimiliki, sehingga peluang usaha ekonomi produktif yang dapat dikembangkan tentunya yang berbasis air, lahan dan agribisnis. Untuk teknologi walaupun tidsak terdapat di potensi lokal namaun kehadirannya dapat membentu kehidupan masyarakat disekitarnya. Untuk itu sektor ini sangat menjanjikan jika digunakan sebagai salah satu peluang usaha produktif. Potensi Sumber daya lokal dan Peluang Usaha Ekonomi Produktif dapat diupayakan dengan sistem :
 Intensifikasi
Peningkatan produktifitas hasil pertanian dengan tidak menambah jumlah areal, dengan melakukan pemilihan bibit yang unggul serta proses pemupukan yang benar.
 Ektensifikasi
Peningkatan produktifitas hasil pertanian dengan menambah jumlah areal, hal ini dimungkinkan untuk daerah Irigasi Leuwi Bokor.
 Diversifikasii
Peningkatan produktifitas hasil pertanian dengan menambah jenis tanam, dengan melakukan tumpang sari, ataupun penyesuaian dengan jadwal musim tanam, yaitu palawija. Untuk DILeuwi Bokor sangat dimungkinkan untuk melakukan penanaman jagung, kacang tanah dan umbi-umbian..
DUKUNGAN
 Ketersediaan Lahan dan Air Cukup Tersedia
 Sarana pertanian yang cukup
 Sistem Budidaya
 Pasca Panen/Pemasaran
Dari keempat faktor pendukung diatas untuk point Pemasaran masih perlu adanya peningkatan..

6. Profil Kelembagaan

a. Profil umum P3A/GP3A daerah Irigasi Leuwi Bokor
• P3A mitra CAI
1. P3A Mitra Cai Mitra Tani.(Desa Majalaya) Luas 250 Ha
2. P3A Mitra Cai Wirata Asih (Desa Cijagang). Luas 57 Ha
3. P3A Mitra Cai Mulya Jaya (Desa Sukamulya). Luas 280 Ha
P3A Mitra Cai yang telah mempunyai legalitas adalah P3A Mitra Cai Mitra Tani dibuat tahun 2008 oleh dinas Pertanian. Sedangkan P3A yang dalam proses legalitas adalah P3a Wirata Asih dan P3A Mulya jaya. (proses di tahun 2009).

• GP3A Mitra Cai
Nama Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Daerah Irigasi Leuwi Bokor adalah Mitra Cikundul, yang mempunyai legalitas yaitu Akta Perubahan Notaris No. 57, Notaris : Agus Syamsudin, SH. Yang dibuat pada tanggal 18 April 2008, dengan NO. NPWP : 02.309.438.6.406.000. Azas dan Sifat Gabungan yaitu Gotong royang dengan berazaskan Pancasila, merupakan perkumpulan sosial, serta mendaya gunakan potensi air irigasi pada petak tersier atau daerah irigasi pedesaan disekitar wilayah kerja sekunder

b. Struktur Organisasi, dan kelengkapan kesekretariatan

Struktur organisasi GP3A Mitra Cikundul :

Badan pemeriksa : H. Misbahudin
Ketua : M.Y. Ridwan
Wk.Ketua : U. Sukinar
Sekretaris : lutfi
Bendahara : A. Baehaki
Seksi teknis : Juhaeni
Seksi Usaha : Entang. Y/Bibin.M
Seksi Samprotan : Cecem/Mustopa/ujang
Seksi keamanan : T. Somantri/Jajang




Bagan Struktur Organisasi GP3A Mitra Cikundul


























Keanggotaan terdiri dari P3a Unit, Pemilik sawah, Pemilik penggarap sawah, Penggarap/penyakap, Pemilik kolam yang mendapat pasokan air irigasi.
Susunan Pengurus P3A :

1. P3A mitra tani (Desa Majalaya)

Ketua : M.Y. Ridwan
Sekretaris : Lutfi
Bendahara : Baehaki
Koordinator ulu-ulu : Somantri
Ketua Blok 1 : Anong
Ketua Blok 2 : H. Misbah
Ketua Blok 3 : Ocid

2. P3A Wirata asih (Desa Cijagang)
Ketua : Cecen Husen
Wk. Ketua : Entang Yuyun
Sekretaris : Juhaeni
Bendahara : E. Saripudin
Koordinator Ulu-ulu : Tatang
Ketua Blok 1 : Jejen
Ketua Blok 2 : Nana
Ketua Blok 3 : Olih

3. P3A Mulya Jaya
Ketua : U. Sukinar
Wk. : Ece Sulaeman
Sekretaris : E. Somantri
Bendahara : Mustopa
Koordinator Ulu-ulu : Cucup
Ketua Blok 1 : Jajang
Ketua Blok 2 : Ujang
Bagan P3a Mitra Cai

























b. Kelengkapan Kesekretariatan
Tabel 17. kelengkapan kesekretariatan Daerah Irigasi Leuwi Bokor Tahun 2009

d. Wilayah Kerja dan Program Kerja
• Wilayah Kerja
Daerah irigasi Leuwi Bokor merupakan salah satu Daerah Irigasi yang kewenangan pengelolaannya dilaksanakan oleh di tingkat Kabupaten Cianjur. Daerah irigasi Leuwi Bokor meliputi luas aeral 587 Ha dan terletak di Kecamatan Cikalongkulon.



















• Program Kerja
RENCANA KERJA GP3A MITRA CIKUNDUL
DAERAH IRIGASI LEUWI BOKOR
TAHUN 2008 – 2010


NO PROGRAM/KEGIATAN TAHUN PENANGGUNG
JAWAB KET
I II III IV V
1 Peningkatan Kelembagaan P3A/GP3A
a. Patisipasi Aktif anggota
b. Penataan Administrasi GP3A/P3A, Desa, Bappeda, PSDAP
2 Peningkatan Kemampuan Anggota P3A/GP3A GP3A/P3A, Bappeda, PSDAP
3 Pemeliharaan dan Operasional Jaringan irigasi GP3A/P3A
4 Pengembangan Usaha
a. P3A
b. GP3A
GP3A
P3A
5 Monitoring dan Evaluasi GP3A/P3A


RENCANA KERJA TAHUNAN GP3A MITRA CIKUNDUL
DAERAH IRIGASI LEUWI BOKOR
Tahun 2009
NO PROGRAM/KEGIATAN BULAN PELAKSANA INDIKATOR
8 9 10 11 12
Peningkatan Kelembagaan IP3A/GP3A/P3A
1 Inventarisasi Permasalahan GP3A/P3A GP3A/P3A Terkumpulnya permasalahan di GP3A dan P3A
2 Inventarisasi Aset P3A/GP3A Sekretaris GP3A Tersedianya data Aset P3A/GP3A
3 Melaksanakan Rapat Mingguan (Minggon) Sekretaris GP3A Terlaksananya Rapat Mingguan
4 Melengkapi administrasi kelembagaan
- Pengisian Buku Anggota
- Pembuatan Buku Agenda Rapat
- Pembuatan Buku Inventarisasi
- Pembuatan Buku Keuangan
- Pembuatan Buku Kegiatan
- Pembuatan Arsip risalah rapat Ketua , Sekertaris, Bendahara GP3A - Buku Anggota yang terisi
- Adanya buku agenda rapat
- Adanya Buku Inventarisasi
- Adanya Buku Keuangan
- Adanya Buku Kegiatan
- Adanya Arsip risalah rapat
5 Melaksanakan pertemuan dengan dinas/instansi terkait guna memotivasi anggota Ketua GP3A - Jumlah anggota yang hadir rapat lebih banyak
- Bertambahnya anggota P3A/GP3A


Pemeliharaan dan Operasional Jaringan
1 Penelusuran Jaringan Irigasi Ketua GP3A Terlaksananya kegiatan penelusuran jaringan
2 Pendataan Kerusakan jaringan irigasi Ketua GP3A Tersedianya data jaringan irigasi
3 Melaksanakan Kerja Bakti Bulanan GP3A/P3A Bersihnya saluran sekunder dan tersier
4 Melaksanakan Iuran IPI Anggota GP3A Adanya sejumlah uang iuran di bendahara GP3A
5 Pembuatan Buku Inventarisasi Jaringan Ketua GP3A Adanya buku Inventarisasi Jaringan
6 Melaksanakan perbaikan kecil jaringan Ketua GP3A Terselesaikannya kerusakan saluran
7 Bekerjasama dengan dinas terkait Ketua GP3A Adanya pertemuan dengan dinas terkait
Monitoring dan Evaluasi
1 Melaksanakan monitoring terhadap kegiatan sesuai dengan indicator kegiatan GP3A/P3A Adanya laporan / catatan / resume kegiatan
2 Melaksanakan evaluasi kegiatan dan keuangan GP3A/P3A Adanya laporan evaluasi kegiatan dan keuangan


e. Pemberdayaan organisasi P3A/GP3A
Beberapa upaya dalam meningkatkan kemampuan GP3A/P3A dalam pengelolaan irigasi partisipatif telah dilakukan. Diantaranya adalah memberikan pelatihan-pelatihan serta sosialisasi kebijakan Pemerintah berkenaan dengan keirigasian. Upaya lain adalah melakukan mediasi dengan pihak/lembaga swasta/GP3A dari daerah Irigasi yang lain seperti GP3A Kayungyun hal tersebut dimaksudkan untuk terobosan dalam pengembangan usaha produktif lainnya.
Berkenaan dengan kegiatan pelatihan, sangat disayangkan untuk obyek pelatihan adalah Ketua atau yang ditunjuk selalu itu-itu juga. Dikhawatirkan adalah penerapan ataupun sosilisasinya kepada anggota ataupun pengurus tidak akan merata. Untuk itu perlu dilakukan pelatihan di setiap Daerah Irigasi masing-masing ataupun tempat yang berdekatan dengan lokasi pemberdayaan, agar dapat diikuti oleh semua atau sebagian pengurus GP3A/P3A.
f. Kinerja organisasi P3A/GP3A Daerah Irigasi Leuwi Bokor
kinerja organisasi P3A/GP3A masih belum optimal dengan tingkat keaktipan sebagian pengurus/anggotanya cenderung rendah sehingga masih perlu adanya pendampingan, serta daerah irigasi ini masih belum jelasnya peran organisasi P3A/GP3A di daerah Irigasi Leuwi Bokor terhadap perubahan kebijakan pengelolaan irigasi.
Melihat dari target iuran belum berjalan optimal, dapat dilihat dalam tabel 2 tingkat keaktifan pengurus maupun anggota dalam hal pengumpulan iuran dari tahun 2001 sampai dengan 2008 terus menurun. Ini disebabkan karena pengurus GP3A selalu terfokus pada pengelolaan irigasi di wilayah sekunder. Karena orientasi yang kelihatannya mengarah pada komersialitas/proyektable. Hal ini tidak dapat disalahkan sepenuhnya pada kepengurusan GP3A, namun memang kebijakan yang kondusif untuk kearah itu serta keadaan bangunan bendung saati itu dalam keadaan ruksak berat.
Untuk itu diperlukan perbaikan disetiap lini, agar penyelesaiannya dapat dilakukan secara komperhensif dan menyeluruh


























PSETK secara konseptual dapat didefinisikan sebagai gambaran informasi atau data mengenai keadaan sosial, ekonomi, teknis, dan kelembagaan pada suatu daerah irigasi yang dibutuhkan oleh Kelembagaan Pengelola Irigasi (KPI) untuk proses perencanaan program pemberdayaan organisasi P3A/GP3A/IP3A dalam meningkatkan kinerja pengelolaan irigasi partisipatif.

Analisa hasil PSETK Memuat informasi tentang uraian dari persoalan yang mendasar yang terjadi di wilayah Daerah Irigasi Leuwi Bokor, yang ditinjau dari aspek Sosial Ekonomi, Teknik, Kelembagaan, Usaha Tani serta Potensi Sumber Lokal.
Kebanyakan keturunan/regenerasi berurbanisasi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Tidak mengikuti jejak pendahulunya sebagai petani. Sehingga untuk memajukan keirigasian dan pertanian kususnya tidak bisa berkembang karena ketika diperlukan regenerasi dari pendahulunya sudah tidak tersedia. Kemampuan sumber daya manusia yang dimiliki oleh kelompok tani merupakan suatu kendala dalam pemberdayaan serta pengembangan organisasi, adanya kemampuan untuk berkomunikasi menyampaikan permasalah kepada anggota yang lain relatif kecil sehingga pemahaman mereka terhadap organisasi kurang begitu antusias. Dominasi informasi masih hanya terbatas untuk pengurus inti seperti ketua, sekretaris dan bendahara serta para ketua P3A, sehingga pemerataan informasi kepada pengurus yang lain belum terserap secara maksimal.
Pertemuan atau rapat koordinasi intensitasnya sedikit menurun sehingga program kerja tidak maksimal dilaksanakan, hal ini bisa disebabkan karena lemahnya keorganisaian serta daya dukung lingkungan yang kurang memahami akan keberadaan kelembagaan serta kesibukan rutinitas anggota kelompok. Tingkat keaktifan pengurus sedikit menurun terhadap kegiatan organisasi terutama di kepengurusan P3A, hal ini karena aktivitas dari organisasi tidak jelas dan masih berorientasi pada kegiatan-kegiatan yang bersifat project saja.
Daya dukung dari lembaga terkait kurang maksimal terutama dari lembaga atau dinas pemerintah yang membidangi sektor pertanian dan ke irigasian, sehingga para petani kurang termotivasi dengan kegiatan kelembagaan secara menyeluruh, selain itu pula lembaga yang ada ditingkat desa sebagai perangkat pemerintahan desa kurang begitu merespon keberadaan organisasi petani pemakai air, artinya bukan tidak mau bergabung akan tetapi sifat koordinasi yang selama ini berjalan secara langsung dari instansi terkait, sehingga informasi kurang begitu terserap oleh pemerintahan desa.
Potensi lokal yang potensial untuk dapat dikembangkan diantaranya potensi sumber daya manusia yang dinilai cukup memadai, ditambah dengan sumber daya lain seperti lahan, air dan material juga cukup potensial untuk dikembangkan. Hanya saja untuk sumber daya teknologi dirasakan masih sangat kurang. Apabia ditinjau dari aspek usaha tani selain padi sebagai sumber pendapatan pertanian petani di DI Leuwi Bokor, palawija merupakan salah satu unggulan produksi yaitu berupa cabai dan jagung . Selain budidaya pertanian, budidaya perikanan air tawar seperti Ikan mas, Nila, dan lele dengan pola Mina Padi (MINDI) yaitu pola tanam ikan sebelum tanam padi menjadi salah satu budidaya yang mampu menopang ekonomi petani, tetapi berkurangnya debit air sungai Cikundul ditambah dengan jebolnya bendung junghil menjadi kendala yang kemudian menurunkan produksi ikan air tawar tersebut sehingga petani kehilangan salah satu sumber pendapatan yang potensial ini.


























PSETK secara konseptual dapat didefinisikan sebagai gambaran informasi atau data mengenai keadaan sosial, ekonomi, teknis, dan kelembagaan pada suatu daerah irigasi yang dibutuhkan oleh Kelembagaan Pengelola Irigasi (KPI) untuk proses perencanaan program pemberdayaan organisasi P3A/GP3A/IP3A dalam meningkatkan kinerja pengelolaan irigasi partisipatif.

A. Masalah
Masalah-masalah yang dihadapai di daerah Irigasi leuwio bokor antara lain dilihat dari aspek-aspek :

1. Sosial Ekonomi
Beberapa faktor munculnya masalah sosial ekonomi di masyarakat petani seperti :
Perluasan daerah pemukiman yang menambah sempit areal pesawahan.
Munculnya kondisi kepemilikan atas lahan irigasi oleh masyarakat sehingga menyulitkan pendataan kembali aset Irigasi.
Masih belum tumbuhnya kesadaran dalam pengelolaan irigasi yang partisipatif.
Anggota dan pengurus GP3A/P3A didominasi oleh golongan orang tua sehingga tingkat pendidikan relatif masih rendah.
Kebanyakan keturunan/regenerasi berurbanisasi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Tidak mengikuti jejak pendahulunya sebagai petani.
Permasalahan petani di Daerah Irigasi Leuwi Bokor dalam peningkatan produktifitas hasil pertanian sebagai bagian dari peningkatan pendapatan petani adalah masalah klasik yaitu mengenai perbandingan harga hasil produksi dengan biaya produksi terutama harga pupuk dan tenaga kerja.
Usaha tani yang dilakukan masyarakat daerah irigasi Leuwi Bokor umumnya masih konvensional dengan adopsi teknologi belum optimal.
Umumnya petani menjual hasil panennya langsung ke tengkulak dengan sistem borong hasil atau sebagian petani ada menjual dengan sistem ijon.

2. Teknik
a. Sumber air daerah irigasi Leuwi Bokor

Sumber air Daerah Irigasi Leuwi Bokor dalam gambaran umum sudah di jelaskan bahwa sumber airnya adalah yang berasal dari sungai Cikundul yang merupakan Sub DAS Citarum. Mata air sungai Cikundul terletak di Taman nasional Gede – Pangrango (TNGP) sementara suplesi sungai Cikundul berasal dari beberapa anak sungai yang ada di Cianjur yaitu Sungai Cibodas, Sungai Cisarua, Sungai Cipendawa, Sungai Cikerta, Sungai Citunggul, dan Sungai Cidadap.
Kondisi debit air Sungai Cikundul sangat ditentukan oleh kondisi setiap hulu anak sungai Cikundul. Setiap hulu anak sungai Cikundul sudah sangat kritis sehingga dikhawatirkan air tersebut tidak bisa tertampung, hal ini dialami oleh beberapa Daerah Irigasi seperti Cihea, Susukan Gede, Cianjur Leutik, dan Ciapadang Cibeleng karena untuk mengairi daerah irigasinya saja pada musim tanam III sudah tidak mampu, apalagi jika dilanjutkan ke Daerah Irigasi Leuwi Bokor.

b. Ketersediaan

Dengan tidak berfungsinya bendung junghil I disebabkan jebol akibatnya Ketersediaan air dalam saluran irigasi menjadi berkurang sehingga debit air di daerah irigasi leuwi bokor menjadi tidak teratur. Biasanya di daerah irigasi Leuwi Bokor apabilka bendung mengalami kerusakan, selalu dibuat tanggul buatan (usaha mengalirkan air dalam saluiran irigasi) dari sumbernya. Akan tetapi banyak sekali kelemahannya selain menghabiskan waktu, tenaga serta biaya. Bendung buatan ini sering terganggu yaitu dikala hujan air dalam saluran menjadi berkurang/tidak ada sama sekali, karena bila terjadi hujan lebat bendung buatan ini sering jebol terbawa arus oleh besarnya air dari sumber utama atau tertutup oleh sampah dari hulu yang dibawa oleh air.

c. Alokasi Air Irigasi

Alokasi air irigasi umumnya digunakan untuk bertani, mandi dan mencuci, sejauh ini di daerah irigasi leuwi bokor belum terjadi masalah-masalah yang signifikan tentang alokasi akan air irigasi ini.

d. Fisik bangunan

Untuk jaringan irigasi yang terdapat di lingkungan padat penduduk, terlihat masih banyak sampah karena kurangnya kesadaran dari masyarakat disamping keaktifan dari P3A yang kurang.
Banyak saluran/lining yang rusak sehingga menghambat arus air serta Penggunaan badan saluran irigasi (lining) untuk pemanfaatan bangunan dan pemanfaatan lainnya masih ada disebagian jaringan irigasi.
Pengamanan bangunan dan saluran irigasi yang masih belum optimal dengan indikasi terjadinya kehilangan bagian bangunan irigasi dan kerusakan lining.
Minimnya pengetahuan dan ketrampilan GP3A/P3A terhadap Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi.
Minmimnya kuantitas tenaga operasi dan pemeliharaan serta kegiatan gotong royong yang dilaksanakan anggota GP3A/P3A masih terbatas pada kegiatan yang bersinggungan dengan kegiatan proyek.

3. Kelembagaan

Anggota dan pengurus GP3A/P3A didominasi oleh golongan orang tua sehingga tingkat pendidikan relatif masih rendah.
Kelengkapan administrasi kelembagaan belum lengkap.
Pemahaman tentang pengisian buku buku administrasi belum bisa dipahami.
Rutinitas pertemuan antar pengurus unit P3A maupun Pengurus GP3A belum terlaksanadengan baik.
Pelaksanaan pelatihan pelatihan tentang keorganisasian masih diikuti oleh jajaran pengurus yang tetap, tidak bergantian, sehingga informasi tidak segera tersebar secara menyeluruh.
Iuran Pengelolaan Irigasi belum berjalan.

4. Usaha Tani dan Potensi Sumber Lokal

Perluasan daerah pemukiman yang menambah sempit areal pesawahan.
Munculnya kondisi kepemilikan atas lahan irigasi oleh masyarakat sehingga menyulitkan pendataan kembali aset Irigasi.
Permasalahan petani di Daerah Irigasi Leuwi Bokor dalam peningkatan produktifitas hasil pertanian sebagai bagian dari peningkatan pendapatan petani adalah masalah klasik yaitu mengenai perbandingan harga hasil produksi dengan biaya produksi terutama harga pupuk dan tenaga kerja
Usaha tani yang dilakukan masyarakat daerah irigasi Leuwi Bokor umumnya masih konvensional dengan adopsi teknologi belum optimal.
Umumnya petani menjual hasil panennya langsung ke tengkulak dengan sistem borong hasil atau sebagian petani ada menjual dengan sistem ijon.

B. Upaya Tindak Lanjut

Usaha – usaha yang dilakukan untuk menanggulangi masalah tersebut diatas sudah dilakukan seperti :
Sosialisasi tentang akibat terjadinya alih pungsi lahan.
Peningkatan koordinasi antar Mitra Cai, Muspika, Desa/ kelurahan, Cabang Dinas dan Dinas PSDAP kabupaten Cianjur.
Mensosialisasikan tingkat kesadaran masyarakat tentang pengelolaan irigasi.
Study banding dengan P3A/GP3A yang telah berhasil dan berkembang.
Sosialisasi tentang akibat terjadinya alih pungsi lahan.
Peningkatan koordinasi antar Mitra Cai, Muspika, Desa/ kelurahan, Cabang Dinas dan Dinas PSDAP kabupaten Cianjur.
Penyuluhan dan sosialisasi tentang pentingnya Pengelolaan Tanaman dan Sumber daya Terpadu Dan Pola Tanam padi secara SRI.
Mengadakan sekolah lapang tentang petunjuk pelaksanaan penanaman padi sawah secara SRI untuk P3A/GP3A oleh dinas Pertanian.
Pelatihan dan Sosialisasi teknologi hasil pertanian serta pemasaran hasil peranian terhadap P3A/GP3A mitra cai daerah setempat oleh ppl/Dinas Pertanian.
Study banding dengan P3A/GP3A yang telah berhasil.
Perlu pengembangan program dengan pola insentif dalam meningkatan usaha ekonomi dan kesejahteraan masyrakat (prgram dinas terkait).
Memberikan kesadaran penuh pada petani mengenai kegunaan dari rencana tata tanam.
Pembinaan di tingkat petani harus lebih digiatkan, utamanya mengenai pengelolaan irigasi partisipatif.
Perlunya pengamanan ekstra untuk setiap pintu, dengan keaktifan dari P3A ditambah bantuan dengan melibatkan pihak sat pol pp serta pihak kepolisian.
Penegakan hukum dengan melalui proses sosialisasi, pemasangan papan peringatan hingga penegakaan diterapkan pada setiap pelanggar
Peningkatan Kemampuan teknis pertugas pintu serta peningkatan kemampuan teknis dan kapasitas kelembagaan GP3A/P3A.
Peningkatan koordinasi antar Mitra Cai, Cabang Dinas dan Dinas PSDAP kabupaten Cianjur.
Peningkatanjumlah serta mutu sarana fisik jaringan irigasi
Penyuluhan dan sosialisasi PP No. 20 tahun 2006 tentang Irigasi
Pelatihan Manajamen bagi GP3A/P3A Mitra Cai melalui berbagai program Pemerintah seperti Irigasi Andalan jawa barat, IWIRIP, PKPI, samapai WISMP.










PSETK secara konseptual dapat didefinisikan sebagai gambaran informasi atau data mengenai keadaan sosial, ekonomi, teknis, dan kelembagaan pada suatu daerah irigasi yang dibutuhkan oleh Kelembagaan Pengelola Irigasi (KPI) untuk proses perencanaan program pemberdayaan organisasi P3A/GP3A/IP3A dalam meningkatkan kinerja pengelolaan irigasi partisipatif.


Profil Sosio Ekonomi Teknis dan Kelembagaan (PSETK) Daerah Irigasi Leuwi Bokor merupakan gambaran informasi tentang kondisi Sosioekonomi Teknis dan Kelembagaan daerah Irigasi Leuwi Bokor yang dapat digunakan oleh Kelembagaan Pengelola Irigasi sebagai acuan dalam menyusun program perencanaan pengelolaan irigasi, juga dapat digunakan sebagai dasar pengelolaan irigasi partisipatif bagi IP3A/GP3A/P3A dalam peningkatan kinerja.
Profil daerah Irigasi Leuwi Bokor ini belum seluruhnya lengkap dan sempurna, tetapi masih banyak kekurangan data pendukung yang harus dilengkapi serta diperlukan perubahan – perubahan seiring perubahan kondisi Sosial Ekonomi Teknis dan Kelembagaan di daerah irigasi Leuwi Bokor.
Akhirnya, dengan segala kerendahan hati penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi tersusunnya PSETK daerah irigasi Leuwi Bokor yang lengkap dan sempurna. Semoga PSETK ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiiiin !!!
























Kegiatan Dalam Gambar


























Bendung dibangun th 2009 Sebelum jebol sdh terjadi keruksakan Jebol bln Nopember 2009














Bendung Cijaganf selesai Dibangun Tahun 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar